Cultural diversity atau keanekaragaman budaya dapat diartikan sebagai keanekaragaman ciri atau kebiasaan suatu kelompok masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat ini biasanya bersifat kewilayahan, artinya kebiasaan yang berlaku disuatu kelompok masyarakat yang tinggal disuatu daerah akan memiliki ciri-ciri tertentu yang mungkin saja sama atau bahkan berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat dari daerah lain.

Keanekaragaman budaya ini meliputi bahasa, cara berpakaian, cara mendirikan atau membentuk bangunan tempat tinggal, cara bercocok tanam, cara memanen hasil tanaman, dan sebagainya. Jadi yang dimaksud kebudayaan dalam cultural diversity ini tidak hanya melihat faktor kesenian yang ada dalam masyarakat saja, tapi juga mencakup pola perilaku kehidupan masyarakat tersebut dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari. Dan kita sama-sama mengetahui bahwa di Indonesia kita tercinta ini masih banyak kelompok masyarakat di berbagai daerah yang masih memiliki dan mempertahankan cara-cara tradisional dalam menjalankan aktivitas kehidupannya.

Lalu seberapa pentingkah cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan tradisional yang ada di masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di wilayah Geopark Ciletuh Palabuhanratu ini dipertahankan? Untuk menjawabnya kita perlu mempertimbangkan banyak faktor.

Konferensi Umum UNESCO pada tahun 2001, menegaskan dalam Universal Declaration on Cultural Diversity pasal 1 bahwa "... keragaman budaya tradisional adalah sesuatu yang harus dipertahankan dan sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup umat manusia sebagai salah satu keanekaragaman hayati bagi alam"

Pernyataan UNESCO ini menimbulkan banyak perdebatan, dengan berbagai pemahaman dan konsep yang melatarbelakangi perdebatan itu sendiri. Pertama, pernyataan tentang kata "tradisional" dalam pernyataan UNESCO itu sebagai bagian dari keanekaragaman budaya untuk kelangsungan hidup umat manusia perlu dijabarkan dan dijelaskan lebih lanjut. Kedua, mempertahankan unsur "tradisional" dalam suatu kebudayaan ini dianggap sebagai suatu upaya untuk mempertahankan "ketertinggalan" suatu kelompok masyarakat. Yang mana menurut mereka sangat tidak etis sengaja melestarikan "keterbelakangan" suatu kelompok masyarakat atau suatu wilayah. Karena hal ini akan menimbulkan semacam penolakan dari kelompok masyarakat atau wilayah tersebut terhadap kemajuan teknologi atau kemajuan medis sebagaimana yang dinikmati oleh mereka yang berada di wilayah "maju".

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, kita tentu sama-sama setuju bahwa mempertahankan nilai-nilai tradisional dalam suatu kebudayaan sebagai ciri dari suatu kelompok masyarakat merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi dengan terjadinya globalisasi, nilai-nilai tradisional suatu bangsa akan mendapat tekanan yang begitu besar. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi baik perangkat maupun materinya melampaui batas-batas geografis dan akan memberikan dampak pada individu dan masyarakat di seluruh belahan dunia. Masuknya kebudayaan asing dari bangsa lain secara perlahan akan menggeser kebudayaan-kebudayaan asli dari suatu daerah.

Meskipun kemajuan teknologi ini memberikan banyak keuntungan dalam beberapa hal, peningkatan aksesibilitas ini juga memiliki dampak negatif yang bisa mempengaruhi individualitas suatu masyarakat. Dengan informasi yang begitu mudah didistribusikan ke seluruh dunia, maka nilai-nilai budaya yang ada di suatu daerah akan menjadi homogen. Akibatnya, kekuatan identitas individu dan masyarakat yang menjadi ciri suatu kawasan atau wilayah mungkin mulai melemah.

Disinilah kita sebagai warga masyarakat Geopark Ciletuh perlu membentengi diri agar nilai-nilai budaya yang ada di wilayah kita tidak tergeser oleh budaya-budaya luar. Nilai-nilai agama perlu kita tanamkan sedini mungkin dan sekuat mungkin kepada generasi-generasi muda Ciletuh. Apalagi jika program pemerintah untuk menjadikan Geopark Ciletuh Palabuhanratu ini sebagai bagian dari Global Geopark Network (GGN) UNESCO ini sukses, maka tugas masyarakat dalam mempertahankan kebudayaan asli daerah Ciletuh akan bertambah berat.

Bukanlah suatu hal yang salah bila kita menikmati kemajuan teknologi dengan segala fasilitas dan kelengkapannya, tapi kita juga tidak boleh termanjakan oleh berbagai kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh kemajuan-kemajuan teknologi itu.

Sebagai contoh, perkembangan teknologi komunikasi membuat kita mudah untuk menghubungi rekan dan sanak saudara baik yang dekat maupun yang jauh tanpa harus bertemu. Hal ini membuat kita jarang bertatap muka dengan teman, saudara bahkan dengan tetangga sekalipun. Jika kita terbiasa demikian maka tatanan kehidupan dalam hubungan kemasyarakatan diwilayah kita sudah sampai pada tahap yang membahayakan. Nilai-nilai persatuan dan kebersamaan antar warga akan luntur, demikian pula dengan budaya gotong royong yang biasa kita lakukan dengan tetangga sedikit demi sedikit akan hilang. Sehingga sangatlah tepat bila Rasulullah SAW mewajibkan kita untuk saling memelihara hubungan kekerabatan dan tali silaturahmi antar sesama.

Konsep Sunda "Miindung ka waktu mibapa kajaman" itu juga perlu, karena kita tidak hidup untuk masa lalu. Kita hidup untuk hari ini dan untuk masa yang akan datang, dengan tidak melupakan masa lalu. Gunakan masa lalu sebagai pengalaman dan acuan untuk menentukan sikap dalam menghadapi masa yang akan datang.

Kita terima teknologi sepanjang bermanfaat dan tidak merusak tatanan perikehidupan kita, kita terima budaya luar selama tidak bertentangan dengan budaya kita sebagai umat muslim dan sebagai urang Sunda. Kita ambil sisi positifnya dan singkirkan nilai-nilai negatifnya, siapa lagi yang akan menjaga budaya Geopark Ciletuh Palabuhanratu kalau bukan kita sebagai warga pribumi. Jangan menunggu esok atau lusa, tapi lakukan mulai dari sekarang.

Pin It

Logo SMPN 1 Ciemas

Struktur organisasi

Kepala sekolah

Drs. Aa Heryana

NIP. 196812011998021003
Kepala sekolah
Mamin Bunyamin

Mamin Bunyamin

Ketua Komite
Supono, S.Pd

Supono,S.Pd

NIP. 196207311984031001
Wakil Kepala Sekolah
Suharjo,S.Pd

Suharjo, S.Pd

NIP. 196107091993121001
Kaur Tata Usaha

Artikel lainnya

  • Biodiversity

    Biodiversity adalah keanekaragaman hayati, biologi atau makhluk hidup yang ada disuatu daerah atau...

  • Cultural diversity

    Cultural diversity atau keanekaragaman budaya dapat diartikan sebagai keanekaragaman ciri atau...

  • Curug Awang

    Sungai Ciletuh adalah salah satu diantara sekian banyak sungai yang mengalir di Sukabumi bagian...

  • Geodiversity

    Geodiversity adalah gambaran dari keanekaragaman komponen geologi yang terdapat di suatu daerah,...

  • Panenjoan

    Panenjoan adalah sebuah tempat wisata yang ada di desa Tamanjaya Kecamatan Ciemas yang termasuk...